Wahai manusia, janganlah sekali-kali merasa kesepian di atas jalan kebenaran
hanya karena disebabkan oeleh sedikitnya orang yang berada di sana.
Sesungguhnya kebanyakan dari manusia-manusia telah berkumpul
menghadapi hidangan yang kenyangnya hanya sebentar saja
namun lama sekali laparnya
( Imam Ali bin Abu Thalib r.a)
Sebagai
organisasi himpunan
akademis muslim yang memiliki tujuan -
saya yakin semua kader Himpunan sudah hafal diluar kepala - ”
Terbinanya insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam, Bertanggungjawab atas Terwujudnya Masyarakat Adil-Makmur yang diridhoi Allah swt”. Sebuah tujuan yang sedemikian besar dan mulia, untuk merealisasikannya tentu tidaklah mudah dan gampang. Tentunya untuk mewujudkannya membutuhkan berbagai proses yang panjang, berkesinambungan dan terprogram secara jelas. Utopikah tujuan diatas?
Himpunan Mahasiswa Islam merupakan
organanisasi pengkaderan bagi para
akademis muslim. Sedangkan apabila
kita kembali pada tujuan diatas, hal yang utama dan pertama harus dicapai dan diasah-diasuh adalah
Kualitas Insan Akademis. Kualitas ini apabila dijabarkan akan sangat luas dan mungkin akan menghasilkan ribuan kalimat, akan tetapi dalam kesempatan ini
saya mencoba menafsirkan
insan cendekia dalam serpihan
kualitas Insan Cita dalam beberapa point sebagai berikut:
-
Insan Akademis yang memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi (mahasiswa).
Mahasiswa dan kualitas-kualitas yang dimilikinya (berpengetahuan luas, rasional, kritis, obyektif, pelopor, lebih mengedepankan akal daripada okol dll.) menduduki kelompok elit dalam setiap generasinya. Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis merupakan kharakter dan ciri dari kelompok elit dalam generasi muda, yakni kelompok i
nsan akademis itu sendiri (mahasiswa). Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis yang didasarkan pada obyektifitas yang harus diperankan mahasiswa dapat dilaksanakan dengan baik apabila mereka dalam suasana bebas merdeka (
independen) dan demokratis. Sikap yang progresif (maju) ini adalah ciri yang harus melekat pada sosok intelektual. (
Insan Cendikiawan) Untuk mencapai hal tersebut menurut hemat saya, kawan-kawan telah mempunyai metode masing-masing. Entah itu dengan metode membaca, diskusi, sharing, mengkaji, atau merenung tentunya bukanlah dengan ngelamun atau cara yang sejenisnyalah.
-
Insan Akademis yang mampu berfikir secara teoritis
Setelah point diatas tentu sebagai
Mahasiswa tidak boleh untuk menikmati kemampuannya tersebut hanya untuk
cita dirinya pribadi (Personal). Sebagai kelompok yang menengah dalam sebuah strata kemasyarakatan, Mahasiswa dituntut untuk mengejawantahkan keilmuan / pengetahuan yang telah didapat bagi kehidupan (Komunal). Hal ini tentu tidak dapat dilakukan, selama Mahasiswa itu sendiri tidak mampu memformulasikan pengetahuan yang dimiliki dalam bentuk yang sederhana dan mudah diterima oleh khalayak umum (masyarakat). Dalam bahasa laian insan yang berfikir teoritis, seperti yang diuraikan oleh Antonio Gramsci menjadi ”
Intelektual Organik” atau mirip konsep Ali Syariati ”
Rausyan Fikr”.
-
Insan Akademis yang memiliki spesialisasi keilmuan yang sesuai dengan bidangnya.
Sebagai Mahasiswa
kita dituntut untuk senantiasa bersikap profesional, dalam artian kita mampu menguasai bidang keilmuan tertentu yang menjadi background pendidikan kita. Baik itu dalam aspek teknis maupun teoritis. Sehingga nantinya dalam dinamika organisasi akan tercipta pluralitas keilmuan yang jelas dan mampu merumuskan perbedaan-perbedaan dari berbagai macam pemikiran tersebut dengan tepat guna mengarahkan pada Tujuan Bersama Himpunan.
Kelompok mahasiswa dengan sikap dan watak tersebut di atas merupakan kelompok elit (Insan Cendikiawan) dalam totalitasnya sebagai generasi muda yang harus mempersiapkan diri guna menerima tongkat estafet pimpinan bangsa dan generasi sebelumnya di masa mendatang. Oleh karena itu fungsi kaderisasi mahasiswa sebenarnya merupakan fungsi yang paling urgen dan poros proses regenerasi dan perjuangan (need axisment himpunan). Sebagai generasi yang harus melaksanakan fungsi dan peran sebuah kaderisasi demi perwujudan kemakmuran dan kebahagiaan masyarakat, bangsa dan negaranya di masa mendatang, maka kelompok mahasiswa harus memiliki watak yang progresif dinamis.
Mahasiswa bukan kelompok tradisionalis, akan tetapi mahasiswa merupakan "
duta-duta pembaharuan sosial", dalam artian mahasiswa mampu dan siap melakukan perubahan secara continuitas (terus menerus) ke arah kemajuan yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu
mahasiswa selalu mencari kebenaran, untuk menemukan kebenaran maka mahasiswa harus mempunyai ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh nilai kebenaran dan berorientasi pada masa depan dan bertolak dari ke-Benaran Illahi dalam apliasinya di ranah sosial maupun individu (
Etis dan Organisatoris). Adapun untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran tersebut, maka setiap kader
INSAN CITA Himpunan harus mampu melakukan fungsionalisasi ajaran / nilai-nilai Islam.